Senin, 06 Desember 2010

BAB 10 (KOMUNIKASI)

KOMUNIKASI 


            Komunikasi ada di mana-mana, di rumah, dikampus, di Mesjid, di Kantor dan 
sebagainya. Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan kita. Sebuah penelitian 
(Applboum, 1974 : 63) menyebutkan bahwa tiga perempat (70%) waktu bangun kita 
digunakan untuk berkomunikasi  – membaca, menulis dan mendengar an  (We spend an 
estimated three-fourths of our waking hours in some form of communications-reading, 
writing, speaking and listening) Komunikasi menentukan kualitas hidup kita. 
  Komunikasi memiliki hubungan yang erat sekali dengan kepemimpinan, bahkan 
dapat dikatakan bahwa tiada kepemimpinan tanpa komunikasi. Apalagi syarat  seorang  
pemimpin selain ia harus berilmu, berwawasan kedepan, ikhlas, tekun, berani, jujur, sehat 
jasmani dan rohani, ia juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi, sehingga Rogers 
(1969:180) mengatakan  “Leadership is Communication.  Kemampuan berkomunikasi 
akan menentukan berhasil tidaknya seorang pemimpin dalam melaksanakan  tugasnya. 
Setiap pemimpin  (leader) memiliki pengikut  (flower)  guna meralisir gagasannya dalam 
rangka mencapai tujuan tertentu. Disinilah pentingnya kemampuan berkomunikasi bagi  
seorang pemimpin, khususnya dalam usaha untuk mempengaruhi prilaku orang lain. 
Inilah hakekatnya dari suatu manajemen dalam organisasi. 
  Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasisan, pengarahan  dan 
pengawasan dengan memberdayakan   anggota organisasi dan penggunaan sumber daya 
organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Handoko, 
2003: 8). Menajemen sering juga didefinisikan sebagai seni untuk melaksanakan suatu 
pekerjaan melalui orang lain. Para manejer mencapai tujuan organisasi dengan cara 
mengatur orang lain untuk melaksanakan tugas apa saja yang mungkin diperlukan untuk 
mencapai tujuan tersebut (Stoner, 1996 : 7)  




  Manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi, karena tanpa manajemen, semua 
usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit. Paling kurang ada tiga alasan 
utama mengapa manajemen itu dibutuhkan.  Pertama  : Untuk mencapai tujuan. 
Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan suatu organisasi dan pribadi;  kedua :   2
Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatankegiatan dari pihak yang berkepentingan dalam organisasi, seperti pemilik dan karyawan, 
maupun kreditur, pelanggan, konsumen, supplier, serikat kerja, assosiasi perdagangan, 
masyarakat dan pemerintah.  Ketiga :  Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Suatu 
kerja organisasi dapat diukur dengan  banyak cara yang berbeda. Salah satu cara yang 
umum adalah efisiensi dan efektivitas. 

B. Komunikasi Dalam Organisasi 
Komunikasi  dalam  organisasi adalah : Komunikasi di suatu organisasi yang 
dilakukan pimpinan, baik dengan para karyawan maupun dengan kha layak yang ada 
kaitannya dengan organisasi, dalam rangka pembinaan kerja sama yang serasi untuk 
mencapai tujuan dan sasaran organisasi (Effendy,1989: 214). 
Manajemen sering mempunyai masalah tidak efektifnya komunikasi. Padahal 
komunikasi yang efektif sangat penting bagi para manajer, paling tidak ada dua  alasan, 
pertama,  komunikasi adalah proses melalui mana fungsi- fungsi manajemen mulai dari 
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dapat dicapai;  kedua, 
komunikasi adalah kegiatan dimana para manejer mencurahkan sebagian besar proporsi 
waktu mereka. 
  Proses Komunikasi memungkinkan manejer untuk melaksanakan tugas-tugas 
mereka. Informasi harus dikomunikasikan kepada stafnya agar mereka mempunyai dasar 
perencanaan, agar rencana-rencana itu dapat dilaksanakan. Pengorganisasian memerlukan 
komunikasi dengan bawahan tentang penugasan mereka. Pengarahan mengharuskan 
manejer untuk berkomunikasi dengan bawahannya agar tujuan kelompo dapat tercapai. 
Jadi seorang manejer akan dapat melaksanakan fungsi- fungsi manajemen melalui 
interaksi dan komunikasi dengan pihak lain. 
  Sebahagian besar waktu seorang manejer dihabiskan untuk kegiatan komunikasi, 
baik tatap muka atau melalui media seperti Telephone, Hand Phone dengan bawahan, 
staf, langganan dsb. Manejer melakukakan komunikasi tertulis seperti pembuatan memo, 
surat dan laporan- laporan. 
   3
C. Model Komunikasi dalam Organisasi 
Model komunikasi yang paling sederhana adalah adanya pengirim, berita (pesan) 
dan penerima seperti gambar berikut ini : 

Model ini menunjukkan 3 unsur esensi komunikasi. Bila salah satu unsur hilang, 
komunikasi tidak dapat berlangsung. Sebagai contoh seorang dapat mengirimkan pesan, 
tetapi bila tidak ada yang menerima atau yang mendengar, komunikasi tidak akan terjadi. 
Model komunikasi yang terperinci, dengan unsur-unsur penting dalam suatu 
organisasi yaitu : 
1.  Sumber mempunyai gagasan, pemikiran atau kesan yang  
2. diterjemahkan atau disandikan ke dalam kata-kata dan symbol-simbol, kemudian  
3. disampaikan atau dikirimkan sebagai pesan kepada penerima 
4. penerima menangkap symbol-simbol dan 
5. diterjemahkan kembali atau diartikan kembali menjadi suatu gagasan dan 
6. mengirimkan berbagai bentuk umpan balik kepada pengirim. 

Sumber (source) atau pengirim mengendalikan berbagai pesan yang dikirim, 
susunan yang digunakan, dan saluran mana yang akan digunakan untuk mengirim pesan 
tersebut. 
Mengubah pesan ke dalam berbagai bentuk simbo-simbol verbal atau nonverbal 
yang mampu memindahkan pengertian, seperti kata-kata percakapan atau tulisan, angka, 
berakan dsb. 
  Langkah ketiga  sumber mengirimkan pesan melalui berbagai saluran komunikasi 
silan. Manfaat komunikasi lisan, antar pribadi adalah kesempatan untuk berinteraksi 
antara sumber dan penerima, memungkinkan komunikasi nonverbal (gerakan tubuh, 
intonasi suara, dll) disampaikannya pesan secara tepat, dan memungkinkan umpan bali 
diproleh. Sedangkan komunikasi terulis dapat disampaikan melalui media seperti :memo, 
Pengirim                                 Pesan      Penerima   4
surat, laporan, catatan, bulletin, surat kabar dsb. Komunikasi tulisan mempunyai 
kelebihan dalam penyediaan laporan atau dokumen untuk kepenting masa mendatang.  
  Langkah keempat adalah penerimaan pesan oleh pihak penerima. Pada umumnya 
penerima menerima pesan melalu panca indera mereka.. banyak pesan penting yang 
tidak diterima oleh seseorang karena mereka tidak menerima pesan karena kesalahan 
dalam mememilih media yang tepat. 
  Langkah kelima adalah decoding. Hal ini menyangkut memahami symbol-simbol 
yang dipergunakan oleh pengirim (sumber). Ini amat dipengaruhi oleh latar belakang, 
kebudayaan, pendidikan, lingkungan, praduga dan gangguan disekitarnya. Dalam 
komunikasi dua arah antara pimpinan dan stafnya (atasan dan bawahan) kemampuan 
pimpinan dalam berkomunikasi menjadi factor penentu berhasil tidaknya orang lain 
memahami ide, gagasan yang ia sampaikan. 
  Langkah terakhir adalah umpan balik. Setelah pesan diterima dan diterjemahkan, 
penerima memberikan respon, jadi komunikasi adalah proses yang berkesinambungan 
dan tak pernah berakhir. Inilah yang disebut bahwak komunikasi  yang efektif itu akan 
menimbulkan interaksi yang baik pula dalam melaksanakan tujuan organisasi. 


D. Hambatan-Hambatan Te rhadap Komunikasi yang Efektif 
1. Hambatan Organisasional yaitu tingkat hirarkhi, wewenang manajerial dan 
spesialisasi. 
Tingkat khirarkhi bila suatu organisasi tumbh, dan strukturnya berkembang, akan 
menimbulkan berbagai masalah komunikasi. Karena pesan harus melalui tingkatan 
(jenjang) tambahan, yang memerlukan waktu yang lebih lama barulah pesan itu sampai. 
Wewenang Manajerial artinya, kekaburan wewenang bagi setiap tingkatan pada 
jabatan tertentu akan membuat pesan tidak sampai ke seluruh bagian yang ada dalam 
organisasi tersebut.  
Spesialisasi artinya adalah prinsip organisasi, tetapi juga menimbulkan masalahmasalah komunikasi, apalagi mereka yang berbeda keahlian bekerja saling berdekatan. 
Perbedaan fungsi dan kepentingan dan istilah- istilah dalam pekerjaan  mereka masing 
dapat menghambat, dan membuat kesulitan dalam memahami, sehingga akan timbul 
salah pengertian dan sebagainya.   5
2. Hambatan-hambatan Antar Pribadi 
  Manejer selalu menghadapi bahwa pesan yang disampaikan akan berubah dan 
menyimpang dari maksud pertama. Manejer haruslah memperhatikan hambatanhambatan antar pribadi seperti : Persepsi selektif, status atau kedudukan komunikator 
(Sumber), Keadaaan membela diri, Pendengaran lemah, dan ketidaktepatan dalam 
penggunaan bahasa. 
Persepsi selektif adalah suatu proses yang menyeluruh dengan mana seorang 
menseleksi, mengorganisasikan, dan mengartikan segala pesan yang ia terima. Persepsi 
seseorang akan dipengaruhi oleh pengalaman masing-masing.  Untuk itu diharapkan 
seorang manejer memahami sebanyak mungkin tentang kerangka piker, keinginan, 
kebutuhan, motif, tujuan dan tingkat kecerdasan seluruh karyawannya, agar komunikasi 
dalam organisasi yang ia pimpin menjadi efektif. 
  Status Komunikator artinya hambatan utama komunikasi adalah kecendrungan 
untuk menilai terutama kredibilitas sumber. Kredibilitas didasarkan keahlian seseorang 
dalam bidang yang ia komunikasikan dan tingkat kepercayaan seseorang bahwa 
komunikator dapat dipercayai. 
Keadaan membela diri. Perasaan membela diri baik pada pengirim, maupun 
penerima pesan, menimbulkan hambatan dalam proses komunikasi. 
      Pendengaran lemah. Manejer harus belajar untuk mendengar secara  efektif agar 
mampu mengatasi hambatan ini. 
Ketidaktepatan dalam penggunaan bahasa. Salah satu kesalahan terbesar yang 
terjadi dalam proses komunikasi adalah salah dalam menggunakan bahasa. Sebagai 
contoh, perintah manajer untuk mengerjakan “secepat mungkin” bisa berarti satu jam, 
satu hari atau satu minggu. Disamping itu bahasa nonverbal yang tidak konsisten seperti 
nada suara, ekspresi wajah, dan sebagainya dapat menghambat komunikasi. 
E. Pedoman komunikasi yang baik 
1. Teliti tujuan sebenarnya dalam setiap berkomunikasi 
2. Pertimbangkan keadaan fisik dan fisikhis orang lain dalam berkomunikasi 
3. Konsultasikan dengan berbagai pihak setiap proses manejemen mulai dari 
merencanakan sampai evaluasi.   6
4. Perhatikan tekanan nada dan eksperesi wajah sesuai dengan isi pesan yang 
disampaikan. 
5. Perhatikan konsistensi dalam berkomunikasi 




Sumber:



Applbaum, Ronald L, 1974, Strategies for Persuasive Communication, Charles E. Merril 
Publishing Company, Columbus, Ohio. 
Effendy, 1989, Kamus Komunikasi, Mandar Maju, Bandung.  
Handoko, T. Hani, 2003, Manajemen, BPFE,Jogyakarta 
Muhammad, Arni, 1995, Komunikasi Organisasi, Bumi Aksara, Jakarta. 
Liliweri, Alo, 1997, Sosiologi Organisasi, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar